Detil Berita
Kamis, 29 Desember 2011 - 13:29:32 WITA
Kerajinan Tempurung Aris Dikenal Hingga ke Bali
Diposting Oleh :: Muhammad Wildan
Kategori: Pembinaan Kursus & Pelatihan - Dibaca: 1204 kali

Translated to: English Version

Keunikan hasil kerajinan yang bahan baku utamanya adalah tempurung kelapa di Desa Wombo Indu, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sudah banyak dikenal orang. Tidak hanya di Palu, tetapi pengusaha pariwisata dari Bali pun sangat mengaguminya.
 
”Ada pengusaha dari Bali yang penah berkunjung ke sini mengakui keunikan hasil kerajinan tangan ini karena benar-benar mengandalkan ciri khas alami Donggala,” kata Aris didampingi Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Donggala, Muhammad Nadir.
 
Kerajinan tempurung di desa tersebut dirintis Aris tahun 2003 silam. Pria yang berusia 45 tahun berputra tiga itupun menggunakan nama lengkap dengan embel-embel Aris T. Huruf itu ternyata bermakna Tempurung.
 
“Saya pakai nama Aris Tempurung supaya lebih mudah dikenal orang,” kata Aris tersenyum, suatu hari, di teras rumahnya yang sekaligus menjadi bengkel kerjanya.
 
Seorang pengusaha kafe dari Kalimantan juga sudah membeli gelas yang terbuat dari tempurung yang merupakan salah satu produk Aris yang berciri khas Donggala. Gelas tempurung tersebut digunakan sebagai tempat minum di kafe yang dikelola pengusaha itu di Kalimantan.
 
Pengusaha kafe itu ingin menampilkan suasana baru dan berbeda di kafe yang dikelolanya. Dan memilih menggunakan gelas tempurung sebagai pembeda dengan kafe lainnya. Apalagi, pengunjungnya juga senang menggunakan gelas tempurung tersebut. Mungkin karena suasananya menjadi sangat alami karena permukaan gelas itu benar-benar sesuai asli kulit tempurug kelapa.
 
“Harga gelas yang didesain mengikuti model gelas yang berkaki tinggi dan banyak digunakan di kafe-kafe itu relatif murah. Hanya Rp 300 ribu per lusin atau Rp 25 ribu per buah. Dan beberapa bulan lalu, pengusaha dari Kalimantan itu sudah mengambil dua lusin untuk digunakan di kafenya. Dan sekarang dia minta lagi dikirimkan ke sana,” kata Aris tersenyum sumringah.
 
Menurut Aris, dari sisi pemasaran hasil produksinya, tidak ada masalah, karena pasar sudah siap menyerap produk yang dihasilkan. Berapan pun jumlahnya, Bahkan, ada sejumlah calon pembeli yang terpaksa menunggu pesanannya diselesaikan.
 
“Saat ini saya sudah menerima pesanan dari calon pembeli dari Polewali Mandar di Sulawesi Barat yang secara khusus memesan aksesoris dari tempurung kelapa bertuliskan lafaz Allah dan Nabi Muhammad,” kata Aris.
 
Selain membuat kerajinan yang sudah lazim seperti, tas gantung, tas laptop, tas HP, ikat pinggang, gelas, meja, tatakan gelas dan alas piring, Aris terus menciptakan desain-desain kerajinan baru.
 
Dalam mengembangkan usaha rintisannya itu, Aris tidak bekerja sendiri. Saat ini dia dibantu lima pemuda di desanya. Mereka diajari membuat kerajinan agar keahlian yang dimiliki Aris bisa ditularkan kepada para pemuda di kampung itu.
 
Meski usahanya sangat prospektif, Aris mengaku masih menghadapi kendala dalam hal permodalan.
“Saya masih butuh bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha ini. Jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya kisaran Rp 20 juta. Itu akan sangat membantu saya untuk memenuhi permintaan calon pembeli yang semakin banyak,” kata Aris.
 
Pria berkulit hitam ini mengatakan, pemerintah melalui dinas perindustrian dan perdagangan setempat sudah memberi bantuan untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Bantuan itu digunakan untuk pengadaan mesin-mesin dan alat produksi lainnya.
 
Kepala SKB Donggala, Muhammad Nadir, mengatakan, pemerintah terus memberikan perhatian terhadap kerajinan seperti yang dikembangkan Aris. Apalagi, produk yang dihasilkan benar-benar berciri khas Donggala dan nyaris tidak ditemukan di daerah lain.
 
Selain kerajnan tempurung, menurut Nadir, SKB Donggala juga membina pengrajin lain yang menampilkan produknya dengan ciri khas Donggala seperti kain tenun Donggala yang bahan bakunya terbuat dari sutra.
 
Soal keterbatasan permodalan yang dimiliki pengrajin, Nadir mengatakan, telah membantu memfasilitasi dengan menghubungkannya dengan sejumlah instansi pemerintah, termasuk mengirim proposal bantuan dana block grant dari pemerintah melalui Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional V Makassar.
 
“SKB Donggala sudah mengajukan proposal bantuan ke BPPNFI Makassar untuk membantu pengrajin di daerah ini. Tim dari BPPNFI Makassar juga sudah meninjau lokasi dan bengkel kerajinan Pak Aris. Kami tinggal menunggu hasil verifikasinya,” kata Nadir.(rusdy embas)
 

Sumber: Rusdy Embas







 
Artikel PAUDNI
Pembinaan Kursus dan Pelatihan
Pendidikan Masyarakat
Pendidikan Anak Usia Dini