Rabu, 27 April 2011 - 08:24:26 WITA
Pendidikan Keorangtuaan Dikembangkan 8,7 Juta Penduduk Buta Aksara, 80 % Berusia 45 Tahun Keatas
Diposting Oleh :: Irhandi Amirin
Kategori: Pendidikan Masyarakat
- Dibaca: 3612 kali
Translated to: English Version
[SOLO]
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional melalui survey. Pusat
Statistik Pendidikan 2010 jumlah penduduk buta aksara di Indonesia
tercatat masih cukup banyak, yaitu 8,3 juta orang atau 5,1
persen
dari jumlah penduduk. Sedangkan berdasarkan hasil Sensus Penduduk yang
dilaksanakan BPS tahun 2010 tercatat masih 11,3 juta orang. Meski
begitu, capaian Pendidikan Kekasaraan yang telah dilaksanakan menurut
UNESCO hasilnya sudah menunjukkan hal yang menggembirakan karena dapat
malampaui target Education for All (EFA) yang menargetkan 5 persen
hingga tahun 2015.
“Dari
jumlah penduduk buta aksara yang disebutkan di atas, 80% berusia 45
tahun ke atas. Berdasarkan data ini, maka Direktorat Pembinaan
Pendidikan Masyarakat tahun 2011 ini memberikan prioritas pada
pendidikan keorangtuaan (parenting education),” ujar Direktur Pembinaan
Pendidikan Masyarakat, Ella Yulaelawati PhD dalam acara Orientasi dan
Sinkronisasi Program Pendidikan Masyarakat 2011 di Solo,Selasa (19/4).
Menurut
Ella, program parenting education merupakan program layanan pendidikan
yang pelaksanaannya lebih mengarah pada pemberantasan kemiskinan
ekonomi, pendidikan pola asuh anak, perbaikan kesehatan ibu dan bayi,
dan pemberdayaan perempuan. Program ini dilaksanakan melalui penguatan
Taman Bacaan Masyarakat, penataan kelembagaan, kelompok belajar bersama,
PUG Provinsi, PUG tingkat Kabupaten dan Kota, serta seluruh lembaga
mitra penyelenggara pendidikan masyarakat. Ada pandangan sepihak yang
menyatakan usia 45 tahun merupakan usia lanjut yang dengan sendirinya
akan berakhir
sehingga dinilai tidak berpengaruh.
“Pandangan tersebut kurang tepat, justru Direktorat Pembinaan Pendidikan
Masyarakat menilai sebaliknya, yaitu usia yang berpengaruh kuat
terhadap pendidikan anak dalam keluarga. Hal inilah yang menyebabkan
Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat menitiberatkan programnya
tahun 2011 lebih pada parenting education,” tukasnya. Dijelaskan,
program pendidikan masyarakat tahun 2011 ini pada
prinsipnya
berfokus pada dua program pokok, yaitu program pendidikan yg dapat
membaca, menulis, berbahasa nasional, dan berhitung; sedangkan
pendidikan yakeaksaraan dasar dan pemberdayaan yang
berbentuk multi keaksaraan.
Pendidikan
keaksaraan dasar adalah layanan pendidikan yang diselenggarakan untuk
menjadikan masyarakng memberdayakan adalah pendidikan yang bersifat
fungsional dalam arti pemberian makna dari
apa
yang diketahui untuk mengantar cakrawala berpikir mereka kearah yang
lebih luas, sehingga mereka dapat melakukan perubahan hidup kearah yang
lebih baik. Hal senada diungkap Plt Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini,
Non Formal dan Informal, Hamid Muhammad yang menyambut baik pengembangan
pendidikan keorangtuaan. Pendidikan orang keorangtuaan atau pendidikan
orang dewasa dikembangkan melalui pendidikan keluarga. “Hal ini penting
dilaksanakan karena pendidikan keluarga merupakan satu system program
pendidikan yang berpengaruh terhadap kesuksesan program pendidikan
nasional,” ujar Hamid.
Pendidikan
Masyarakat, sambungnya yang paling utama untuk dikembangkan adalah
pendidikan yang memiliki pola memberdayakan masyarakat dari segala aspek
khusunya pada aspek sosial budaya dan lingkungan. Walaupun demikian
program keaksaraan dasar masih tetap menjadi prioritas untuk
dituntaskan.
Prinsip Pendidikan
Sementara
itu, tokoh pendidikan Prof Dr Arief Rahman menegaskan secara prinsip
dalam pendidikan keorangtuaan yang harus dilakukan adalah kegiatan
saling belajar (kerjasama) ini bisa terjadi apabila tidak ada
pihak
yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa sungkan
untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak
harus saling mendengarkan.
“Kalau
setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa
manjadi sumber belajar, dan ini berarti bahwa setiap orang akan sangat
kaya dengan pengetahuan dan pengalaman,” ujarnya.
Artinya
dalam membentuk masyarakat belajar yang perlu dikembangkan konsep pilar
belajar dari UNESCO perlu dikembangkan seperti; learning to know,
learning to do, learning to be, learning to life together,
and
learning to believe in God, yang merupakan akumulasi dari berbagai
pengetahuan keterampilan yang diperoleh sejak masa kanak-Manusia yang
telah dibekali dengan pilar Learning to know akan memiliki sejumlah
pengetahuan dan ketrampilan berpikir.
Menurut
Arief, pendidikan secara umum adalah sebagai suatu usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.
Pada
intinya pendidikan keorangtuaan adalah suatu proses yang disadari untuk
mengembangkan potensi individu sehingga memiliki kecerdasan pikir,
emosional, berwatak dan berketerampilan untuk siap hidup
ditengah-tengah
masyarakat. Prinsip dasar dari pendidikan adalah untuk memanusiakan
manusia, mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani dan mampu
menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan, mampu, dan
senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi, sehingga
terdorong untuk memelihara diri sendiri maupun hubungannya dengan Tuhan
Yang Maha Esa.[EKO]
Sumber: www.paudni.kemdiknas.go.id/dikmas/